Inovasi TambaQu Antar Tim UNS Raih Juara 1 KBMK 2026 Tingkat Nasional

 

PURWOKERTO – Tim Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil meraih Juara 1 Kompetisi Ilmu Bisnis, Manajemen, dan Keuangan (KBMK) Tahun 2026 tingkat nasional pada bidang Perencanaan Bisnis melalui inovasi TambaQu. Kompetisi berlangsung pada 28 September – 2 Oktober 2026 di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Tim yang terdiri atas Ilham Rizki Fauzi dari Program Studi S-1 Psikologi, Ilham Akbar Alibi dari Program Studi S-1 Bisnis Digital, dan Wildan Pratama Faza dari Program Studi S-1 Matematika  ini menghadirkan kolaborasi lintas disiplin untuk mengembangkan TambaQu, sebuah gagasan bisnis yang berfokus pada tantangan budidaya perikanan, khususnya udang vaname.

KBMK 2026 menghadirkan persaingan ketat dengan partisipasi 219 perguruan tinggi dari berbagai provinsi di Indonesia. Melalui serangkaian seleksi, tim UNS berhasil terpilih sebagai salah satu dari 10 finalis terbaik nasional di bidang Perencanaan Bisnis, bersaing dengan tim dari sejumlah perguruan tinggi ternama, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

TambaQu, Inovasi Budidaya Udang Berbasis Teknologi

TambaQu merupakan platform smart aquaculture yang memadukan teknologi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu petambak udang vaname memantau kondisi air dan mengantisipasi risiko penyakit sejak dini.

Melalui sensor yang dipasang di tambak, TambaQu memantau kualitas air secara real-time selama 24 jam, termasuk kadar oksigen, pH, suhu, dan salinitas. Data tersebut ditampilkan melalui aplikasi digital yang dapat diakses menggunakan ponsel atau komputer. Jika terjadi perubahan kualitas air yang berisiko, sistem akan mengirimkan peringatan otomatis agar petambak dapat segera mengambil tindakan.

Keunggulan TambaQu terletak pada fitur PondBrain AI, yang menganalisis data kondisi tambak untuk menghasilkan skor risiko penyakit harian serta rekomendasi tindakan bagi petambak. Dengan demikian, petambak tidak hanya mengetahui kondisi air, tetapi juga memperoleh panduan untuk menentukan langkah penanganan yang lebih tepat.

Inovasi ini mendorong perubahan pola budidaya dari yang semula cenderung reaktif—bertindak setelah masalah muncul—menjadi lebih preventif melalui pemantauan dan deteksi dini. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu petambak mengelola risiko, menjaga kesehatan udang, dan meningkatkan peluang keberhasilan panen.

Pengembangan TambaQu juga mencerminkan kolaborasi lintas keilmuan. Perspektif bisnis digital dan matematika mendukung pengembangan sistem serta pengolahan data, sementara ilmu psikologi berkontribusi dalam memahami perilaku dan kebutuhan pengguna agar teknologi lebih mudah diterapkan oleh petambak.

Perwakilan tim UNS, Ilham Rizki Fauzi, menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas disiplin dapat menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Kemenangan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas disiplin ilmu, mulai dari psikologi, bisnis digital, hingga matematika, mampu menghasilkan solusi dan inovasi yang berdampak nyata. Melalui TambaQu, kami belajar membedah tantangan sektor akuakultur tidak hanya dari sisi bisnis dan teknologi, tetapi juga dari aspek perilaku dan adaptasi penggunanya. Semoga capaian ini dapat menginspirasi rekan-rekan mahasiswa UNS untuk berani berkarya dan berprestasi di tingkat nasional,” ujarnya.

Karya TambaQu juga memiliki relevansi dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pengembangan solusi berbasis teknologi untuk menjawab tantangan sektor usaha.

Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait