Tim KKN Psikologi UNS Perkuat Kesiapan Pendidikan Inklusif melalui SIAP INKLUSI

Surakarta, 8 Oktober 2026 — Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui program KKN MBKM Riset menginisiasi SIAP INKLUSI (Strategi Kolaboratif Penguatan Kesiapan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Sekolah Dasar di Surakarta) di SD Negeri Sekip Surakarta. Program ini dilaksanakan oleh Tim KKN MBKM Riset SIAP INKLUSI yang terdiri atas Dwita Nafiatus Sika, Amanda Syafitri, Dian Ayu Wijiati, dan Salma Zhafira Wiandira, di bawah bimbingan Ibu Selvi Sumardin, S.Psi., M.A. Program ini dirancang melalui kolaborasi dengan pihak sekolah untuk memperkuat kesiapan guru dalam menghadapi keberagaman kebutuhan peserta didik.

SIAP INKLUSI sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam mendorong lingkungan pendidikan yang inklusif, adil, dan memberikan kesempatan belajar bagi setiap anak. Melalui penguatan kapasitas guru dan kolaborasi dengan berbagai pihak, program ini berupaya mendukung praktik pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan peserta didik di sekolah dasar.

Berdasarkan wawancara awal dengan guru, sekitar 25 dari total 326 siswa di SD Negeri Sekip Surakarta teridentifikasi memiliki kebutuhan khusus. Kondisi ini menjadi salah satu dasar perlunya penguatan pemahaman guru mengenai kebutuhan peserta didik. Pentingnya upaya tersebut juga mendapat respons dari Ibu Eni Idayati, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Surakarta. Saat menerima kunjungan perwakilan Tim KKN MBKM Riset SIAP INKLUSI pada 3 September 2026, beliau menyampaikan, “Ya, memang program seperti ini sangat dibutuhkan.”

Dokumentasi Kunjungan Dinas Pendidikan

SIAP INKLUSI mencakup empat rangkaian kegiatan, yaitu pendampingan kegiatan belajar mengajar dan observasi peserta didik (student check-in), pemetaan kebutuhan peserta didik (student needs mapping), dialog bersama orang tua (parents dialogue), serta psikoedukasi praktik inklusif (inclusive practice psychoeducation) bagi guru.

Melalui kegiatan student needs mapping, tim melakukan asesmen terhadap 25 siswa untuk memperoleh gambaran yang lebih terstruktur mengenai kebutuhan mereka. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pemetaan dan kategorisasi kebutuhan, bukan penetapan diagnosis klinis. Informasi yang diperoleh menjadi salah satu landasan untuk membantu sekolah memahami kebutuhan dukungan peserta didik dan merancang penguatan pemahaman bagi guru.

Dokumentasi Student Needs Mapping dan Student Check In

Sebagai tahap penguatan, SIAP INKLUSI menyelenggarakan psikoedukasi bagi guru dengan menghadirkan Ibu Dewi Intan Puspitadesi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis senior yang memiliki pengalaman profesional di bidang layanan psikologi, termasuk melalui Mindset Psychology & Counseling. Beliau juga memiliki pengalaman dalam layanan disabilitas dan pendidikan inklusif di Kota Surakarta. Kegiatan bertema “Kompetensi Psikologis Guru dalam Pendidikan Inklusif” tersebut dilaksanakan pada Kamis, 8 Oktober 2026, di SD Negeri Sekip Surakarta.

Materi psikoedukasi mencakup pendidikan inklusif, karakteristik dan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus, serta peran dan kesiapan psikologis guru dalam menghadapi keberagaman di kelas. Penguatan ini diharapkan membantu guru memahami kebutuhan siswa dan menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai.

Dokumentasi Student Needs Mapping dan Student Check In

Ketua Tim KKN MBKM Riset SIAP INKLUSI mewakili anggota tim, Dwita Nafiatus Sika, menekankan pentingnya kolaborasi dan keberlanjutan dalam mewujudkan pendidikan inklusif. “Salah satu pembelajaran yang kami peroleh adalah bahwa memahami kebutuhan siswa tidak cukup berhenti pada proses identifikasi. Informasi tersebut perlu ditindaklanjuti dengan dukungan yang sesuai, baik melalui penyesuaian pembelajaran, komunikasi dengan orang tua, maupun kolaborasi dengan tenaga profesional. Bagi kami, SIAP INKLUSI merupakan langkah awal untuk membangun proses tersebut bersama sekolah,” ungkapnya.

 

Evaluasi Program dan Rencana Tindak Lanjut

Evaluasi awal program dilakukan melalui direct survey yang diisi oleh 15 guru peserta kegiatan. Pada pernyataan mengenai manfaat SIAP INKLUSI dalam memberikan pemahaman untuk mendukung pelaporan hasil identifikasi siswa sebagai dasar penyesuaian pembelajaran, diperoleh total skor 48 dari skor maksimal 60. Skor tersebut menghasilkan rata-rata 3,2 dari skala 4 atau setara dengan 80% dari skor maksimal. Sebanyak 12 guru menyatakan setuju dan tiga guru menyatakan sangat setuju terhadap pernyataan tersebut.

Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh responden memberikan tanggapan positif terhadap manfaat program pada aspek yang diukur. Namun, evaluasi tersebut masih menggambarkan persepsi peserta terhadap satu aspek manfaat program dan belum mengukur perubahan kemampuan guru secara menyeluruh ataupun penerapan materi dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, evaluasi lanjutan diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman yang diperoleh dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran.

Sebagai langkah berikutnya, program serupa perlu diarahkan pada pendampingan implementasi di kelas, penguatan komunikasi antara guru dan orang tua, serta konsultasi dengan tenaga profesional sesuai kebutuhan siswa. Evaluasi berkala juga dapat dilakukan melalui umpan balik guru, dokumentasi penyesuaian pembelajaran, dan pemantauan tindak lanjut kebutuhan peserta didik. Langkah ini diharapkan dapat membantu sekolah mengembangkan praktik inklusif secara berkelanjutan, sesuai dengan sumber daya dan kebutuhan yang tersedia.

Ke depan, tim berharap penguatan pendidikan inklusif tidak berhenti pada kegiatan psikoedukasi, tetapi berkembang menjadi proses kolaboratif yang berkesinambungan. Perhatian utama bukan hanya pada kemampuan mengenali keberagaman kebutuhan siswa, melainkan juga pada kesiapan sekolah dalam menindaklanjutinya melalui dukungan yang tepat. Dengan demikian, SIAP INKLUSI diharapkan dapat berkontribusi pada lingkungan belajar yang menghargai keberagaman dan memberikan kesempatan bagi setiap peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.

 

Tentang SIAP INKLUSI

SIAP INKLUSI merupakan program KKN MBKM Riset Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret yang berfokus pada penguatan kesiapan penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah dasar di Surakarta melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis kebutuhan. Program ini mengintegrasikan observasi pembelajaran, pemetaan kebutuhan peserta didik, dialog bersama orang tua, dan psikoedukasi bagi guru sebagai bagian dari upaya mendukung praktik pendidikan inklusif di lingkungan sekolah.

Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait