Cegah Perundungan dari Akarnya: Mahasiswa Psikologi UNS Tanamkan Nilai Moral melalui Psikoedukasi pada Siswa Kelas VII SMP N 3 Kota Magelang

Bullying (perundungan) di lingkungan sekolah menjadi salah satu permasalahan yang perlu mendapat perhatian dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Hal tersebut melatarbelakangi pelaksanaan program penguatan moralitas melalui psikoedukasi pencegahan perundungan oleh mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta di SMP Negeri 3 Magelang, Kamis (24/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program MBKM Riset yang bertujuan menumbuhkan kesadaran moral siswa sebagai langkah preventif terhadap perundungan.

Gambar 1. Need assesment bersama salah satu guru BK SMP N 3 Magelang

Program ini disusun berdasarkan hasil wawancara need assessment yang menunjukkan bahwa terdapat indikasi risiko perilaku bullying pada siswa. Selain itu, guru Bimbingan dan Konseling (BK) juga melaporkan sekitar 11 kasus bullying yang terjadi pada sepanjang tahun 2025 hingga awal tahun 2026. Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk mengembangkan program yang tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa mengenai perundungan, tetapi juga memperkuat empati, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai dalam interaksi sehari-hari. Maka dari itu, penyusunan materi dalam program ini mengacu pada konsep pendidikan karakter Thomas Lickona yang mencakup tiga komponen, yaitu moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral). Melalui pendekatan ini, siswa diajak mengenali perilaku yang benar dan salah, menumbuhkan kepedulian terhadap orang lain, serta menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

Gambar 2. Pelaksanaan Psikoedukasi pada Siswa Kelas VII SMP N 3 Magelang

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim MBKM Riset yang terdiri dari Devina Amanda, Deviona Nabilarizki, Faza Fariha, Muhammad Yusril, dan Salsabila Putri di bawah bimbingan Prof. Dr. Purwati, M.S., Kons. Melalui psikoedukasi ini, mahasiswa Psikologi UNS berupaya mendukung terbentuknya lingkungan sekolah yang aman melalui penguatan moralitas dan kesadaran siswa untuk mencegah perundungan.

Gambar 3. Kegiatan Roots Day di SMP N 3 Magelang

Sebagai langkah awal dalam rangkaian program MBKM Riset, tim turut mendukung kegiatan Roots Day di SMP Negeri 3 Magelang pada 28 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan bullying di sekolah sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang aman bagi siswa. Tim berkontribusi melalui persiapan perlengkapan, pendampingan Agen Perubahan dalam latihan simulasi, serta koordinasi dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK). Rangkaian Roots Day yang meliputi simulasi perundungan, sosialisasi oleh guru BK, dan penampilan tari oleh Agen Perubahan menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif mengenai pencegahan perundungan. Pengalaman ini juga menjadi pijakan bagi tim untuk melanjutkan program MBKM Riset melalui psikoedukasi yang berfokus pada penguatan moralitas siswa sebagai salah satu upaya preventif terhadap perilaku perundungan.

Gambar 4. Pelaksanaan Pre-test dan Post-test

Rangkaian program MBKM Riset diawali dengan pengukuran perilaku bullying menggunakan skala Olweus Bully/Victim Questionnaire (OBVQ) untuk memperoleh gambaran awal mengenai perilaku perundungan di kalangan siswa. Sekitar dua minggu setelahnya, tim melaksanakan kegiatan inti berupa psikoedukasi penguatan moralitas. Sebelum penyampaian materi, siswa terlebih dahulu mengisi pre-test untuk mengukur gambaran awal pemahaman terhadap moralitas. Kemudian, tahap berikutnya adalah psikoedukasi yang dirancang untuk memperkuat moralitas siswa sebagai upaya pencegahan perundungan. Melalui penyampaian materi, diskusi, analisis kasus, dan refleksi, siswa diajak memahami nilai-nilai moral, mengembangkan empati, serta menerapkan sikap saling menghargai dan bertanggung jawab dalam interaksi sehari-hari. Setelah psikoedukasi, tim melaksanakan post-test untuk mengidentifikasi perubahan skor moralitas dan post-test untuk perilaku bullying tiga minggu setelah kegiatan psikoedukasi. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi program dan melihat gambaran nyata apakah terjadi perubahan perilaku setelah dilakukan psikoedukasi. Selain itu, tim juga tetap berkoordinasi dengan guru BK untuk mendukung pemantauan kondisi bullying di lingkungan sekolah.

Gambar 5. Dokumentasi Kegiatan Selama MBKM bersama Pembimbing dan Mitra

Pelaksanaan program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-Being), serta SDGs 4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Kontribusi terhadap SDGs 3 diwujudkan melalui upaya mendukung kesejahteraan psikologis siswa dengan menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap dampak perundungan. Sementara itu, kontribusi terhadap SDGs 4 diwujudkan melalui penguatan pendidikan karakter dan upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, serta mendukung perkembangan peserta didik. Upaya tersebut sejalan dengan target SDGs 4.a tentang penyediaan fasilitas pendidikan yang aman, inklusif, dan efektif bagi seluruh peserta didik.

Melalui program MBKM Riset ini, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret berupaya untuk menerapkan ilmu psikologi secara langsung dalam mendukung pencegahan perundungan di lingkungan sekolah. Penguatan moralitas diharapkan tidak berhenti pada pemahaman siswa mengenai nilai-nilai moral, tetapi juga tercermin dalam kepedulian, tanggung jawab, dan perilaku saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, guru BK, dan siswa, upaya membangun lingkungan sekolah yang aman dan mendukung perkembangan karakter remaja diharapkan dapat terus berlanjut.

Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait