Menjalani perkuliahan di tengah tuntutan akademik, organisasi, kepanitiaan, hingga kebutuhan ekonomi dapat menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang pelaksanaan program peningkatan kapasitas dalam mengelola stres dan membangun resiliensi akademik pada mahasiswa dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah yang diselenggarakan oleh Tim MBKM Riset Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS).
Program ini berangkat dari hasil analisis kebutuhan (need assessment) terhadap tiga mahasiswa UNS penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Hasil asesmen menunjukkan adanya beban yang beragam, mulai dari tuntutan perkuliahan, organisasi, kepanitiaan, hingga magang yang berlangsung bersamaan dengan keterbatasan kondisi ekonomi. Berbagai tuntutan tersebut membuat mahasiswa tidak hanya menghadapi tekanan akademik, tetapi juga tekanan dari kondisi kehidupan sehari-hari. Beberapa informan juga menceritakan pengalaman burnout yang berdampak pada kondisi fisik, psikologis, maupun hubungan sosial. Keterbatasan kondisi ekonomi yang dialami turut menjadi sumber tekanan yang dihadapi mahasiswa. Meskipun telah menerima bantuan melalui KIP-K, ketiga informan menyampaikan bahwa bantuan tersebut sangat terbatas dalam mencukupi kebutuhan perkuliahan, terutama pada program studi yang memiliki tuntutan praktik dan kebutuhan akademik yang relatif tinggi. Kondisi tersebut membuat mereka perlu mencari sumber pendapatan tambahan serta mengatur pengeluaran secara lebih ketat untuk memenuhi kebutuhan selama menjalani perkuliahan.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk menyusun program yang tidak hanya memberikan pemahaman mengenai stres secara teoritis, tetapi juga memberi informasi mengenai berbagai keterampilan praktis hingga fasilitas yang dapat dimanfaatkan peserta, mulai dari kesempatan untuk mengenali pola respons diri, berdiskusi bersama psikolog untuk mengetahui pola yang lebih adaptif untuk dilakukan, hingga fasilitas konseling sebaya dari pihak yang sudah terlatih. Program dirancang dengan pendekatan Experiential Learning Cycle yang memadukan penyampaian materi, diskusi, refleksi, dan aktivitas berdasarkan pengalaman sehingga peserta dapat menghubungkan materi dengan pengalaman yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari (Morris, 2019).
Menurut WHO (2025), paparan hal negatif, seperti tekanan akademik, ketidakamanan pekerjaan, pengangguran, kemiskinan, serta keterbatasan sumber daya dapat meningkatkan paparan terhadap stres dan berbagai faktor risiko. Oleh karena itu, permasalahan terkait tekanan akademik yang dialami mahasiswa dengan status sosial ekonomi menengah ke bawah tidak hanya mengenai tuntutan tugas dan beban perkuliahan saja, namun juga berkaitan dengan permasalahan mengenai kondisi kehidupan sehari-hari, sehingga memerlukan dukungan dari lingkungan sekitar.
Mengenali Stres dan Pola Respons Diri
Rangkaian program diawali dengan pengenalan mengenai stres akademik. Peserta diajak memahami definisi stres, bentuk sumber stres, faktor penyebab, baik internal maupun eksternal, dan tahapannya. Selain itu, peserta juga diajak untuk mengenali respons yang muncul, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Pemahaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan pengenalan analisis ABC (Antecedent–Behaviour–Consequence), yaitu cara untuk melihat hubungan antara situasi yang mendahului suatu perilaku, perilaku yang dilakukan, dan konsekuensi yang mengikutinya. Melalui analisis tersebut, peserta diajak untuk merefleksikan pola yang muncul ketika menghadapi situasi yang menekan. Misalnya, ketika menghindari tugas yang dirasa tidak menyenangkan memberikan rasa lega untuk sementara, perilaku menghindar dapat kembali dilakukan ketika menghadapi tugas yang serupa.
Peserta kemudian diajak merefleksikan pengalaman stres yang mereka alami selama satu minggu sebelumnya dan mengenali bagian dari pola yang masih dapat diubah. Dalam kajiannya tentang prokrastinasi akademik, Svartdal dan Løkke (2022) menjelaskan bahwa konsekuensi memengaruhi kemungkinan suatu perilaku terulang. Ketika menghindari tugas yang tidak menyenangkan diikuti rasa lega, menghindar menjadi lebih mungkin dilakukan lagi saat tugas sulit berikutnya datang. Dengan mencatat situasi pemicu, respon, dan dampaknya, peserta diajak melihat bagian pola yang dapat diubah. Selain itu, peserta juga diminta untuk menentukan reward ketika berhasil menjalankan perilaku yang ditargetkan sebagai bentuk penguatan, serta punishment ketika perilaku yang ingin diubah kembali dilakukan.

Membangun Resiliensi Akademik
Setelah mengenali stres dan pola respons diri, peserta diperkenalkan dengan konsep resiliensi akademik. Salah satu kerangka yang digunakan dalam program ini adalah model 5C dari Martin dan Marsh (2006), yang terdiri atas confidence, coordination, control, composure, dan commitment. Kelima dimensi tersebut disesuaikan ke dalam keterampilan yang dapat diberikan kepada peserta. Pengenalan resiliensi akademik kemudian diperkuat melalui ruang diskusi dan dukungan teman sebaya. Peserta tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga berbagi pengalaman mengenai cara mereka menghadapi tekanan dan situasi ketika berhasil bertahan atau kembali bangkit setelah mengalami kesulitan.
Keberjalanan Program
Program dilaksanakan di gedung D Fakultas Psikologi UNS pada tanggal 12, 19, 25, dan 26 September 2026. Pada hari pertama, peserta mengisi pre-test sebelum menerima materi mengenai stres akademik dan analisis ABC. Materi dilengkapi dengan pemutaran film serta kegiatan refleksi untuk membantu peserta mengenali sumber tekanan, faktor yang memengaruhi, dan pola respons mereka terhadap situasi akademik. Hari kedua diawali dengan ice breaking dan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD). Peserta mendiskusikan sumber dan dampak stres akademik serta strategi yang selama ini dilakukan. Diskusi juga menjadi ruang bagi peserta untuk saling mendengarkan dan memberikan dukungan. Pada hari ketiga, peserta memperoleh materi mengenai lima dimensi resiliensi akademik (confidence, coordination, control, composure, dan commitment) dalam model 5C (Martin & Marsh, 2006) oleh fasilitator dan Ibu Desi Wahyu Susilowati S. Psi., M. Psi., Psikolog. Kegiatan dilengkapi dengan latihan menyusun prioritas tugas dan ditutup dengan pengisian post-test. Hari keempat diisi dengan program seni dengan menggunakan media totebag sebagai sarana ekspresi dan refleksi. Program seni ini dilakukan sebagai media untuk mengekspresikan diri sehingga dapat merefleksikan pengalaman pribadi. Secara spesifik, program ini membawakan tema “The Things I Carry”, sehingga peserta dibebaskan untuk menggambar dengan menjawab “apa yang ingin saya bawa” dan “apa yang mungkin saya letakkan”. Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan mengenai tanda-tanda mental membutuhkan penanganan, serta pengenalan berbagai layanan dan platform pendukung kesehatan mental yang dapat diakses peserta. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk edukasi mengenai pertolongan yang dapat peserta akses ketika membutuhkan bantuan terkait kesehatan mental.

Sebagai kegiatan pendukung, program juga menyediakan layanan peer counseling atau konseling teman sebaya yang bekerja sama dengan Psychological Support in Action (Passion), program Komite Sosial Kemasyarakatan Keluarga Mahasiswa Psikologi UNS 2026. Sebanyak enam konselor sebaya dari Passion terlibat dalam layanan tersebut. Para konselor sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dan supervisi psikologis sebagai persiapan sebelum memberikan layanan. Dalam pelaksanaannya, layanan tersebut diikuti oleh delapan konseli dengan durasi 75 menit untuk setiap sesi dan dibagi menjadi empat hari, pada 2, 3, 9, dan 10 Oktober 2026.
Evaluasi Program
Evaluasi program dilakukan melalui perbandingan pre-test dan post-test, penilaian kepuasan peserta, serta evaluasi kegiatan konseling teman sebaya. Pada tes evaluasi kognitif, pertanyaan mencangkup pengetahuan mengenai definisi dan aspek stres serta resiliensi akademik, faktor-faktor yang memengaruhi kedua konsep tersebut, serta soal berbasis kasus untuk menilai pemahaman peserta dalam mengidentifikasi dan menerapkan materi pada situasi yang relevan. Terdapat 13 soal pilihan ganda, di mana rata-rata jawaban benar meningkat dari 7,18 pada pre-test menjadi 9,18 pada post-test. Sebanyak sembilan peserta (81,82%) mengalami peningkatan skor, sementara dua peserta mengalami penurunan. Sedangkan pada evaluasi pemahaman persepsi diri disusun untuk mengukur persepsi peserta mengenai pemahaman dan penerapan materi pengelolaan stres serta resiliensi akademik dalam menghadapi situasi akademik. Soal terdiri atas 12 pernyataam dengan skala 1-4, rata-rata skor juga meningkat dari 2,48 menjadi 3,28. Sebanyak sembilan peserta mengalami peningkatan skor, dua peserta tidak mengalami perubahan, dan tidak terdapat peserta yang mengalami penurunan. Dari sisi kepuasan, delapan dari 11 peserta (72,73%) memberikan penilaian pada kategori sangat tinggi, sedangkan tiga peserta (27,27%) berada pada kategori tinggi. Sementara itu, layanan konseling teman sebaya memperoleh rata-rata penilaian 4,50 dari skala 5. Sebanyak lima konseli (62,5%) memberikan penilaian sangat baik dan tiga konseli (37,5%) memberikan penilaian baik. Pelaksanaan FGD juga menunjukkan keterlibatan peserta yang baik. Peserta aktif menyampaikan pengalaman, mendiskusikan berbagai tekanan yang mereka hadapi, serta berbagai cara dalam menghadapinya. Di sisi lain, peserta tetap diberikan ruang untuk tidak menjawab atau tidak menceritakan pengalaman tertentu ketika merasa tidak nyaman. Selama diskusi, muncul pula dinamika saling mendengarkan dan menguatkan antarpeserta.

Rangkaian kegiatan ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami stres dan resiliensi akademik sekaligus menghubungkannya dengan pengalaman yang mereka hadapi. Melalui materi, diskusi, refleksi, aktivitas, serta dukungan teman sebaya, peserta didorong untuk mengenali pola diri, mencari dukungan, dan menemukan strategi yang lebih adaptif dalam menghadapi tekanan. Program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu “Menjamin Kualitas Pendidikan yang Inklusif dan Merata serta Meningkatkan Kesempatan Belajar Sepanjang Hayat untuk Semua”. Program ini menjadi salah satu upaya untuk membangun ruang belajar yang lebih suportif bagi mahasiswa dalam menghadapi berbagai tuntutan akademik maupun kehidupan sehari-hari. Melalui, pengenalan akan kondisi diri, berani bercerita, dan mengetahui kapan serta kepada siapa harus mencari dukungan merupakan bagian penting dalam membangun ketangguhan selama menjalani perjalanan akademik.
Ditulis oleh:
- Canda Christya Hestikasari
- Diva Nanda Dealova
- Evelin Catherina Wardhana
- Raymond Pramudya


