
SURAKARTA, 1 September 2026 – Di tengah pesatnya disrupsi Artificial Intelligence (AI), meningkatnya krisis kesehatan mental, serta ketidakstabilan geopolitik global, Yayasan Anand Ashram sukses menggelar Simposium Budaya bertajuk “Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern” pada tanggal 1 September 2026. Berlokasi di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, Surakarta, antusiasme masyarakat terlihat dari membeludaknya kehadiran lebih dari 600 peserta yang sangat beragam, mencakup lintas usia, profesi, suku, dan kepercayaan. Keistimewaan simposium ini semakin diperkuat dengan kehadiran jajaran pimpinan daerah dan tokoh masyarakat tingkat kota. Acara ini dihadiri langsung oleh Walikota Surakarta, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta, Kepala Bakesbangpol, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta, Komandan Kodim (Dandim), serta kerabat dari KGPH Dipokusumo, yang menegaskan dukungan penuh institusi negara terhadap pelestarian nilai budaya. Simposium budaya ini sekaligus menjadi puncak peringatan Hari Bhakti Ibu Pertiwi (HBIP) ke-22, sebuah momentum bersejarah yang dicanangkan oleh Menteri Pertahanan RI (2004-2009), Prof. Juwono Sudarsono, pasca Simposium Kebangsaan Bhakti Bagi Ibu Pertiwi di Lemhanas Jakarta pada 1 September 2005 silam.



Dalam sambutan pembukanya, Ketua Panitia, Bapak Iwan Susanto, mengingatkan bahwa dunia sedang berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat teknologi digital. “Perubahan dunia harus dimulai dari transformasi diri. Kedamaian dalam diri melahirkan kejernihan. Kejernihan melahirkan kepedulian. Kepedulian melahirkan kebersamaan, dan kebersamaan membawa kita menuju harmoni,” tegas Bapak Iwan. Beliau menegaskan bahwa bakti kepada Ibu Pertiwi bukan sekadar peringatan seremonial tahunan, melainkan pengabdian nyata bagi negeri, sesama, alam, dan seluruh ekosistem kehidupan. Menyambung hal tersebut dengan pandangan strategisnya, Walikota Solo menyoroti bahwa di era yang serba cepat ini, nilai-nilai kearifan lokal seperti eling lan waspada, tepa selira, dan gotong royong semakin tergerus oleh egoisme sektoral. Beliau secara khusus memperingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam sikap Inner Selfish-sebuah keegoisan diri berkedok pencarian kedamaian yang justru mengabaikan empati sosial dan kelestarian alam.
Lebih lanjut, Walikota memaparkan data empiris yang mengejutkan terkait krisis kesehatan mental di Solo. Melalui program inovatif Posyandu Plus yang melibatkan psikolog klinis, tercatat dari 6.000 warga yang dilayani, sekitar 10% (600 orang) ternyata memerlukan penanganan kejiwaan lanjutan. “Maka dari itu, kami mencanangkan target pada tahun 2030, Solo akan menjadi Wellness City terbaik se-Indonesia,” tegas Walikota. Beliau juga menaruh harapan besar agar nilai-nilai luhur dari simposium ini dapat segera diintegrasikan ke dalam kurikulum muatan lokal bagi pelajar SD dan SMP di Surakarta. Sebagai kompas etis di tengah krisis tersebut, sesi Keynote Speech dari Drs. KGPH Adp Panembahan Dipokusumo, M.Si. (penerima Lifetime Achievement World Peace Award 2023), menggugah kesadaran audiens dengan menggali akar peradaban Jawa. Beliau mengingatkan bahwa di dalam diri manusia terdapat ‘memolo’ (sifat negatif seperti dengki dan serakah) yang harus dibersihkan melalui prinsip ‘amemangun karyenak tyasing sesami’—membangun kebahagiaan di hati sesama manusia. “Dalam diri kita itu ada hal-hal negatif yang harus dibersihkan dengan membangun spirit rasa kebersamaan dan kemanusiaan,” pesannya, menekankan bahwa akar budaya Nusantara adalah fondasi krusial bagi identitas bangsa.

Pendalaman materi kemudian dilanjutkan dalam sesi diskusi interaktif yang dipandu secara tajam oleh Dian Martin (Ketua Asosiasi AI Indonesia), yang semakin memperkaya perspektif audiens melalui pembedahan lintas disiplin bersama panelis pakar. Dari sudut pandang Psikologi Klinis, Dosen Psikologi Universitas Sebelas Maret, Rin Widya Agustin, S.Psi., M.Psi. secara medis membedah akar permasalahan mental masyarakat urban. “Krisis masa kini berakar pada egoisme, di mana kita selalu merasa paling menderita, paling benar, atau paling penting,” tegas Rin Widya. Ia memaparkan bahwa konsep kedamaian diri yang diajarkan oleh Anand Ashram adalah bentuk regulasi emosi yang konkret. “Kekuatan yang kita bawa sejak lahir hanyalah napas. Dan di napas itulah muara seluruh emosi kita berada. Kebahagiaan sejati tidak bisa dicapai jika kita tidak berani membereskan konflik di dalam diri sendiri terlebih dahulu.”
Melengkapi wawasan tersebut dari sisi aksi sosial nyata, Sumartono Hadinoto (Tokoh Inspiratif Kota Solo 2026 & Peraih Global Business & Peace Award 2018) menyoroti tantangan implementasi kepedulian di lapangan. “Berbagi itu tidak perlu menunggu kaya atau menunggu siap. Berbagi bisa dimulai saat ini juga, sekecil apa pun, selama dilandasi keikhlasan. Karena jika kita menunggu siap, kita tidak akan pernah mulai berbagi. Orang yang benar-benar bahagia adalah mereka yang selalu merasa kebutuhannya telah dicukupkan oleh Tuhan, sehingga mereka tidak punya alasan untuk tidak membantu orang lain,” ungkapnya. Pesan ini semakin diperkuat oleh RAy. Febri Hapsari Dipokusumo, S.Sos. yang memberikan kiasan relevan mengenai keberagaman. “Banyak orang ingin menyeragamkan segala sesuatu. Tapi Tuhan menciptakan jari-jari kita tidak sama; kalau panjangnya sama persis seperti jempol semua, bagaimana kita bisa memegang sesuatu? Kita bisa memegang sesuatu karena ada harmoni dari perbedaan,” ajaknya. Penegasan ini didukung pula oleh Assoc. Prof. Dr. Arbania Fitriani, S.Psi., M.Si. yang menggarisbawahi urgensi pengaplikasian nilai kepemimpinan berbasis Nusantara di berbagai institusi masa kini.

Simposium ini pada hakikatnya merupakan medium penghormatan atas warisan pemikiran Anand Krishna (1 September 1956 – 6 Februari 2025), tokoh humanis kelahiran Solo yang selama lebih dari lima dekade konsisten menggali dan mempraktikkan kebijaksanaan luhur Nusantara secara universal. Tidak sekadar berkutat pada diskursus teoretis, kegiatan ini juga memandu langsung seluruh audiens untuk merasakan pengalaman ketenangan diri. Ibu Ninik, dalam sesinya, menekankan bahwa di dunia yang diwarnai tsunami informasi, menjaga kejernihan pikiran adalah sebuah keharusan mutlak agar manusia tidak kehilangan arah. “Apapun pencapaian materi yang kita miliki, kita tidak akan pernah bahagia jika pikiran kita tidak jernih. Kita harus bisa memilah informasi yang memuliakan diri, dan menyingkirkan informasi yang hanya mengagungkan ego,” pesannya. Ratusan pasang mata dalam ruangan pun mencapai puncak keheningan saat dipandu menyelami teknik Meditasi NSE (Neo Self Empowerment) rancangan Anand Krishna, membawa atmosfer Bale Pangenggar seketika menjadi damai dan reflektif. Momen spiritual tersebut disempurnakan dengan penampilan paduan suara yang membawakan kidung “Cintailah Semua Makhluk di Dunia,” memperkuat resonansi pesan cinta kasih.
Sebagai penutup seluruh narasi simposium yang sarat makna ini, Dian Martin menyatukan semua benang merah diskusi dengan mengingatkan bahwa secanggih apapun lompatan teknologi, jawaban atas tantangan manusia modern tetap berpulang pada kesadaran batin. “Tantangan manusia modern hanya bisa dijawab melalui sebuah proses transformasi yang tegak lurus. Semuanya harus dimulai dari pencapaian Inner Peace (Kedamaian Diri). Ketika batin individu telah damai, barulah kita mampu memancarkan Communal Love (Kepedulian Bersama) di tengah masyarakat, yang pada akhirnya akan bermuara pada terciptanya Global Harmony (Harmoni Semesta),” simpul Dian Martin. Konklusi ini menggaungkan secara nyata visi agung Guruji Anand Krishna yang menjadi nyawa dari simposium ini, yakni One Earth, One Sky, One Humankind menjadi Kontribusi Nyata bagi Indonesia dan Dunia.

Kegiatan ini juga memiliki relevansi dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan, serta SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.

Simposium “Jejak Solo untuk Dunia” sukses mendeklarasikan bahwa kearifan lokal Nusantara memiliki kapasitas dan kekuatan universal untuk merajut kembali ketangguhan umat manusia di era disrupsi digital.
Penyelenggara: Yayasan Anand Ashram | Website: www.anandashram.or.id


