Perkuat Budaya Siaga Bencana, Tim P3B UNS Beri Pembekalan Kesiapsiagaan Banjir di SD Negeri Mijipinilihan

Tim Pusat Penelitian dan Penanggulangan Bencana (P3B) Universitas Sebelas Maret (UNS) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Banjir bagi Tenaga Akademik Sekolah Dasar di SD Negeri Mijipinilihan, Kota Surakarta”. Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR-UNS) tahun 2026 yang berada di bawah Pusat Studi Bencana (PSB) UNS. Kegiatan pengabdian ini dipimpin oleh Dr. Farida Hidayati, S.Psi., M.Si., dengan anggota Dr. R. Muhammad Amin Sunarhadi, S.Si., M.P., Prof. Dr. Purwati, M.S., Kons., Budi Siswanto, S.Pd., M.Ars., dan Siti Maro’ah, S.P., M.Sc.

Kegiatan diawali dengan pelatihan pembuatan modul pembelajaran kebencanaan bagi tenaga akademik SD Negeri Mijipinilihan. Pelatihan diarahkan untuk memperkuat kemampuan sekolah dalam mengintegrasikan pendidikan kebencanaan ke dalam proses pembelajaran secara kontekstual, aman, inklusif, dan menyenangkan. Materi kebencanaan diintegrasikan menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta didik yang dekat dengan kondisi lingkungan sekolah.

Dalam pelatihan tersebut, tim pengabdian menekankan pentingnya penguatan kesiapsiagaan terhadap bencana banjir sebagai fokus utama kegiatan. Kemudian, edukasi mengenai Psychological First Aid (PFA) diberikan untuk meningkatkan kesiapan tenaga akademik merespons kondisi psikologis peserta didik ketika bencana terjadi. Media edukasi yang telah dikembangkan sekolah, seperti poster mengenai gempa bumi, juga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah maupun dikembangkan untuk diseminasi kepada pihak lain.

Kegiatan penguatan kapasitas tersebut kemudian dilanjutkan dengan simulasi siaga banjir di lingkungan SD Negeri Mijipinilihan. Simulasi dirancang untuk menguji kesiapan sekolah dalam menghadapi skenario banjir secara terstruktur, mulai dari penerimaan informasi awal mengenai hujan atau genangan, asesmen kondisi oleh koordinator, pengambilan keputusan evakuasi, penyampaian informasi, hingga proses evakuasi menuju titik kumpul.

Rangkaian simulasi diawali dengan briefing, pengecekan petugas dan peralatan, serta kegiatan kelas dalam kondisi normal. Skenario kemudian berkembang melalui informasi mengenai hujan dan potensi genangan. Setelah dilakukan asesmen oleh koordinator, keputusan evakuasi disampaikan kepada warga sekolah. Sirine dan pengumuman digunakan sebagai tanda dimulainya kegiatan simulasi proses evakuasi. Dalam proses evakuasi, guru berperan sebagai pihak yang memimpin dan memastikan peserta didik bergerak secara tertib menuju lokasi aman. Simulasi juga memasukkan skenario jalur evakuasi yang terhalang sehingga peserta harus menggunakan rute alternatif. Setelah seluruh peserta tiba di titik kumpul, dilakukan pendataan untuk memastikan keberadaan seluruh warga sekolah.

Rangkaian simulasi diakhiri dengan konfirmasi seluruh peserta, pengumuman bahwa simulasi telah selesai, serta kegiatan debrief dan evaluasi. Tahap evaluasi menjadi bagian penting untuk mengidentifikasi hal-hal yang telah berjalan baik sekaligus menemukan aspek yang masih perlu diperbaiki dalam prosedur kesiapsiagaan sekolah. Melalui rangkaian tersebut, simulasi menguji kemampuan warga sekolah mengikuti ketepatan prosedur, komunikasi, ketertiban, keselamatan, dan kepedulian terhadap warga sekolah lainnya. Dengan demikian, keberhasilan simulasi ditentukan oleh sejauh mana seluruh proses dapat dilakukan secara aman, terkoordinasi, dan sesuai prosedur.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas SD Negeri Mijipinilihan dalam membangun lingkungan belajar yang lebih siap menghadapi risiko bencana. Pendidikan kebencanaan yang dipadukan dengan latihan praktis diharapkan mampu membentuk kesiapsiagaan yang sebagai pengetahuan, keterampilan hingga kebiasaan keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait