Di tengah kesibukan akademik dan padatnya jadwal kehidupan di sekolah berasrama, kesejahteraan psikologis kerap menjadi hal yang terlupakan. Padahal, di balik kedisiplinan dan rutinitas yang teratur, para siswa boarding school juga menghadapi tantangan emosional, mulai dari kerinduan terhadap keluarga, tekanan akademik, hingga kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Tim MBKM Riset Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (FaPsi UNS) yang beranggotakan: Belgyant Bintang Ramadani, Bintang Aji Satrio, Carmen Novena Chandani, Darren Alfonso, dan Maria Bernice Cahyaningtyas, menyelenggarakan program psikoedukasi dengan judul “Enhance Psychological Well-Being” di SMA Unggulan RUSHD, Sragen yang berlangsung selama dua hari, yakni Senin, 7 Oktober 2025 dan Kamis, 9 Oktober 2025.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program MBKM Riset dan KKN yang berada di bawah bimbingan Dosen Fakultas Psikologi UNS, Dian Kusuma Hapsari, M.Psi. Program ini berfokus pada peningkatan pemahaman siswa kelas 10 terhadap konsep kesejahteraan psikologis — sebuah kondisi psikologis dimana seorang individu dapat berfungsi secara positif, seperti: mampu menerima dirinya kelebihan dan kekurangan dalam diri, memiliki tujuan hidup yang jelas, mampu menjalin relasi positif dengan orang lain, mampu bertanggung jawab dengan diri sendiri, mampu memanfaatkan peluang dan bertumbuh secara pribadi dengan konsisten.
Kegiatan Hari Pertama dan Kedua
Hari pertama diawali dengan pengisian pre-test serta penyampaian materi mengenai tiga dimensi kesejahteraan psikologis, yaitu; penerimaan diri, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Setelah itu, siswa mengisi lembar kerja “River of Life” yang membantu mereka mengenali kekuatan, kelemahan, peluang, rintangan serta rencana pribadi dari jangka pendek hingga menengah. Harapannya, para peserta dapat mengenali dirinya dengan baik serta memiliki arah hidup yang jelas.

Hari kedua dilanjutkan dengan pembahasan tiga dimensi lainnya, yaitu; kemandirian, hubungan positif dengan orang lain, dan penguasaan lingkungan. Sesi ini disertai dengan permainan kelompok yang berjudul, “Find a Way to Achieve”. Permainan ini dirancang untuk mendorong siswa dalam berkomunikasi, bekerja sama dengan rekan tim dan mengambil keputusan bersama. Kegiatan hari kedua diakhiri dengan pengisian post-test dan lembar evaluasi kegiatan.

Hasil dan Dampak Program
Setelah program berakhir, tim melakukan evaluasi pre-test dan post-test terhadap 34 siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman yang signifikan, dengan nilai rata-rata dari 57,94 menjadi 72,64. Angka ini menjadi bukti bahwa kegiatan psikoedukasi dapat memberikan dampak nyata terhadap kesadaran siswa tentang pentingnya kesejahteraan psikologis.
Ketua tim, Belgyant Bintang Ramadani, mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa. “Kami belajar bagaimana teori psikologi bisa benar-benar diterapkan di lapangan, dan lebih dari itu, kami bisa membantu siswa membangun semangat dan pandangan positif terhadap diri mereka,” ujarnya. Selain itu, pihak sekolah juga menyatakan bahwa hasil dari program psikoedukasi dapat memberikan manfaat bagi siswa dan sekolah. Hal ini dikarenakan program psikoedukasi yang tim berikan sejalan dengan program perencanaan karir yang dimiliki sekolah untuk siswa.
Langkah Kecil untuk Dampak yang Lebih Luas
Sebagai tindak lanjut, tim mahasiswa juga membuat akun Instagram @upgrade.pwb yang digunakan untuk membagikan dokumentasi kegiatan dan konten edukatif seputar kesejahteraan psikologis dan keberjalanan program psikoedukasi. Selain itu, hasil penelitian dari program ini akan diterbitkan dalam jurnal pengabdian agar dapat menjadi inspirasi bagi sekolah dan akademisi lainnya.

Program ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap kesehatan mental tidak harus selalu dimulai dari hal besar. Melalui kegiatan sederhana namun bermakna seperti psikoedukasi, kesejahteraan psikologis siswa dapat ditumbuhkan.

Editor : Tim Humas Fakultas Psikologi UNS


