Surakarta, 2 November 2025 — Program Studi S1 Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (FaPsi UNS) menyelenggarakan Sarasehan Psikologi Sosial dengan tema “Mencari Peradaban Jawa-Tionghoa-Arab di Surakarta” di gedung R.Ng. Ranggawarsita PUI Javanologi UNS pada hari Minggu 2 November 2025. Sarasehan ini menghadirkan bahasan lintas disiplin yang merangkai neurosains, psikolinguistik, spiritualitas, dan kebudayaan. Kegiatan Sarasehan Psikologi Sosial dipandu oleh Fadjri Kirana Anggara, S.Psi., M.A. (dosen Fakultas Psikologi UNS) berlangsung pada pukul 14.30–16.56 WIB. dan dihadiri sekitar 210 mahasiswa. Sarasehan Psikologi Sosial ini menghadirkan Rendra Agusta, S.S., M.Sos., budayawan Sraddha Institute Surakarta sebagai narasumber. Pembicara membuka sesi materi dengan mengajak peserta meninjau ulang cara kita memahami warisan lintas generasi: tidak hanya soal biologis, tetapi terutama nilai, kebiasaan, dan pola bertahan hidup yang menyeberang melalui bahasa dan praktik keseharian.

Dalam paparan utama, narasumber menekankan bahwa identitas manusia tidak “lahir jadi”, melainkan terus dibentuk dan dinegosiasikan lewat pengalaman. Keluarga, lingkungan sekolah atau komunitas, serta konteks hidup harian berinteraksi membentuk jati diri, sementara mekanisme pertahanan (self-defence mechanism) membantu individu beradaptasi di tengah perubahan sosial. Di saat yang sama, prasangka dan lokalisasi dibaca sebagai strategi kewaspadaan yang tertanam dalam memori kolektif, merespons hal yang dianggap berbeda atau mengancam. Pilihannya lalu terbentang: menutup diri demi menjaga homogenitas, atau membuka diri untuk belajar beradaptasi dengan keberagaman.
Konteks Jawa memberi lensa yang konkret. Konsep bibit, bobot, bebet—asal-usul, kapasitas, dan nilai sosial-kultural—dihadirkan sebagai kompas hidup yang memandu penilaian diri dan orang lain. Nilai (bebet) yang memudar kerap dipandang sebagai pelanggaran norma, sementara keturunan atau “DNA” dipahami secara dinamis: ia bisa “terpanggil” oleh kebutuhan sosial-kultural yang lebih luas. Dari sini, bahasa dipandang sebagai indikator psikolinguistik yang memetakan cara suatu komunitas memaknai spiritualitas, kerja, dan relasi sosial lintas generasi.

Sesi tanya jawab yang dimulai sekitar pukul 16.15 WIB memperkaya diskusi. Narasumber menegaskan dominannya warisan nilai dan bahasa ketimbang semata faktor biologis. Ayesha Danish menanyakan pengaruh keluarga dibanding lingkungan sekolah pada pembentukan identitas, khususnya di konteks lintas budaya dan agama; jawabannya menekankan identitas yang cair, adaptif, dan terbentuk dalam interaksi berkelanjutan. Moderator juga mengangkat praktik lokalisasi di Solo sebagai jejak sejarah yang memengaruhi kewaspadaan kelompok; narasumber menautkannya dengan strategi “bertahan namun tidak mencolok” yang tampak pada pilihan ruang dan arsitektur—semacam self-defence sosial komunitas.
Secara keseluruhan, acara yang dibuka sekitar pukul 14.59 WIB. ini mengantar peserta pada tiga simpulan kunci: identitas adalah proses yang terus dinegosiasikan; bahasa menjadi cermin nilai serta memori kolektif antar-generasi; dan prasangka ataupun lokalisasi, alih-alih semata bias, dapat dibaca sebagai sinyal kewaspadaan yang perlu dikelola agar bertransformasi menjadi kapasitas adaptif dan ruang dialog. Sarasehan ditutup pukul 16.53 WIB., dilanjutkan dengan foto bersama dan berakhir pada pukul 16.56 WIB. Harapan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk mengajak mahasiswa untuk memperkuat literasi sosial yang memadukan sains, budaya, dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Tim Humas Fakultas Psikologi UNS


