
Senin 25 Mei 2026 — Fakultas Psikologi Universitas Negeri Sebelas Maret (FaPsi – UNS) sukses menyelenggarakan kuliah umum bertajuk EDU PSYCH UNLOCKED: Dari Teori Kelas ke Realita Psikologi di Sekolah di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS. Kegiatan yang dimoderatori oleh Dr. Sri Kurnianingsih, S.Psi., M.M., Psikolog — dosen Fakultas Psikologi UNS menghadirkan Nur Widiasmara, S.Psi., M.Psi., Psikolog — dosen Universitas Islam Indonesia (UII) sekaligus Pengurus HIMPSI Pusat bidang Pendidikan dan Standar Layanan — sebagai narasumber utama. Seminar ini menjadi ruang diskusi yang strategis dalam mengupas penerapan ilmu psikologi pendidikan dan psikologi sekolah ke dalam praktik nyata di lapangan.

Psikolog Sekolah: Lebih dari Sekadar Tes IQ
Dalam pemaparannya, Nur Widiasmara — yang akrab disapa Pak Widi — menegaskan bahwa peran psikolog sekolah jauh melampaui fungsi konvensional sebagai pelaksana tes IQ. Menurutnya, psikolog sekolah memiliki tanggung jawab yang lebih luas: membangun sistem pendidikan yang inklusif, meningkatkan kesejahteraan siswa dan guru, hingga terlibat aktif dalam perumusan kebijakan sekolah.
“Psikolog sekolah tidak boleh berhenti pada hasil tes di atas kertas,” tegas Pak Widi. Ia mendorong para praktisi untuk melihat permasalahan secara holistik — dari individu menuju sistem sekolah secara menyeluruh. Asesmen psikologis yang integratif, kolaboratif, dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan menjadi kunci keberhasilan layanan psikologis di sekolah.


Keterlibatan Siswa dan Pentingnya School Belonging
Seminar juga menyoroti konsep student engagement dan school belonging sebagai fondasi penting dalam keberhasilan proses belajar. Pak Widi menjelaskan bahwa keterlibatan siswa tidak tumbuh secara otomatis, melainkan dibangun melalui relasi sosial yang hangat — baik dengan guru, teman sebaya, maupun lingkungan sekitar sekolah. Ketika siswa merasa diterima, dihargai, dan nyaman berada di sekolah, proses pembelajaran pun berlangsung lebih efektif.
Kerangka MTSS: Dari Individu ke Sistem
Narasumber memperkenalkan kerangka kerja Multi-Tiered System of Support (MTSS) sebagai pendekatan yang relevan dalam menangani permasalahan di sekolah. MTSS menekankan bahwa permasalahan yang tampak pada satu individu sering kali merupakan cerminan dari masalah yang lebih dalam di level sistem sekolah. Kasus bullying, misalnya, tidak cukup ditangani hanya dengan intervensi pada satu siswa saja, melainkan harus menyentuh kebijakan dan iklim sekolah secara keseluruhan.
Melalui pendekatan bottom-up process, permasalahan individu justru dapat menjadi pintu masuk yang berharga untuk mengidentifikasi dan menangani masalah sistemik yang lebih luas. Psikolog sekolah didorong untuk tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam mempromosikan kesehatan mental dan melakukan pencegahan masalah sejak dini.
Kolaborasi sebagai Kunci Pendidikan Inklusif
Pak Widi menekankan bahwa penanganan siswa — khususnya Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) — menuntut kolaborasi erat antara psikolog, guru, dan orang tua. Penyusunan Individualized Education Program (IEP) serta penerapan Universal Design for Learning (UDL) menjadi instrumen penting dalam mewujudkan layanan pendidikan yang adil dan inklusif bagi semua siswa. Diferensiasi pengajaran yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan individual setiap siswa juga menjadi sorotan penting dalam diskusi ini.
Di sisi lain, seminar turut menyoroti pentingnya kesejahteraan guru. Guru yang mengalami stres tinggi — terutama dalam mengajar ABK — perlu mendapat penguatan efikasi diri dan dukungan psikologis yang memadai. Program-program seperti kunjungan rumah (home visit) juga diusulkan sebagai salah satu pendekatan untuk memahami kondisi siswa secara lebih komprehensif dari sudut pandang lingkungan keluarganya.
Tantangan di Indonesia dan Harapan ke Depan
Seminar juga menyentuh tantangan nyata yang masih membayangi perkembangan psikologi sekolah di Indonesia. Psikolog sekolah belum masuk ke dalam struktur formal pendidikan nasional, pelatihan guru inklusif masih terbatas, dan distribusi tenaga profesional di bidang ini belum merata di seluruh wilayah. Kesadaran masyarakat dan pemerintah terhadap pentingnya kesehatan mental di sekolah pun dinilai masih perlu ditingkatkan secara signifikan.
Pak Widi mendorong para mahasiswa untuk tidak menunggu perubahan datang dari atas. “Perubahan dapat dimulai dari kegelisahan pribadi yang diwujudkan dalam aksi nyata,” ujarnya. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui riset, program kreativitas, bergabung dengan komunitas pendidikan, serta merancang program-program kecil yang berdampak nyata bagi sekolah.


Seminar disambut antusias oleh para peserta, terlihat dari tingginya partisipasi pada sesi tanya jawab. Sejumlah pertanyaan kritis dilontarkan, mulai dari cara meningkatkan kesadaran pemerintah terhadap pentingnya psikolog sekolah, strategi menghadapi guru yang kurang responsif terhadap pelatihan, hingga cara memaknai hasil tes IQ secara lebih kontekstual dan tepat guna.
Pak Widi menjawab dengan penuh refleksi, menekankan bahwa pelatihan guru selama ini cenderung terlalu teknis dan kurang menyentuh dimensi personal. Ia menyarankan agar pelatihan dirancang lebih sederhana, relevan dengan situasi nyata di sekolah, dan ramah bagi semua kalangan guru — termasuk guru senior yang mungkin memiliki hambatan berbeda dalam mengadopsi pendekatan baru.
Seminar EDU PSYCH UNLOCKED berhasil memberikan wawasan yang segar dan komprehensif tentang peran strategis psikolog sekolah dalam ekosistem pendidikan Indonesia. Lebih dari sekadar forum akademis, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menggugah kesadaran mahasiswa dan praktisi bahwa transformasi pendidikan yang inklusif dan berkeadilan hanya dapat terwujud melalui kolaborasi lintas profesi, kebijakan yang berpihak pada kesehatan mental, serta komitmen bersama dalam membangun lingkungan belajar yang menyehatkan jiwa dan raga.
Dokumentasi dan Editor : Tim Humas Fakultas Psikologi UNS