Bertempat di asrama Program Jangka Panjang Atlet Potensial (PJPAP) NPCI Jawa Tengah, Jl. Tj. Raya No. 96, Karangasem, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, pada Minggu (26/7/2026), Tim Fakultas Psikologi dan Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret menggelar layanan psikoedukasi bagi pelatih dan pendamping atlet remaja disabilitas PJPAP.
Tim Pelaksana
Kegiatan ini diselenggarakan oleh tim RG Education and Family Empowerment Fakultas Psikologi bekerja sama dengan Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret (UNS), yang beranggotakan:
- Dian Kusuma Hapsari, M.Psi., Psikolog. (Fakultas Psikologi)
- Zahrina Mardhiyah, M.Psi., Psikolog. (Fakultas Psikologi)
- Selvi Sumardin, S.Psi., M.A. (Fakultas Psikologi)
- Muhamad Bram Riyadi, M.Or. (Fakultas Keolahragaan)
- Muhammad Endra Sukmana, M.Or. (Fakultas Keolahragaan)
- Gloria Abygael Phutri Bakara (Mahasiswa Fakultas Psikologi)
- Nashrin Alamsyah (Mahasiswa Fakultas Psikologi)
- Putu Nanda (Mahasiswa Fakultas Psikologi)
- Muhammad Faishal Ibadurrahman (Mahasiswa Fakultas Psikologi)
- Risma Andara Zalianti (Mahasiswa Fakultas Psikologi)
Kegiatan ini dilatarbelakangi masih terbatasnya pengetahuan pelatih dan pendamping asrama dalam mendampingi atlet remaja disabilitas di lingkungan Program Jangka Panjang Atlet Potensial (PJPAP) NPCI Jawa Tengah. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di lapangan, pelatih kerap menghadapi persoalan psikososial atlet seperti atlet yang masih belum dapat menerima kondisi disabilitas, konflik pertemanan, dan masalah komunikasi yang membuat proses pendampingan belum berjalan optimal. Beberapa permasalahan yang terjadi dapat berisiko menurunkan motivasi para atlet untuk berlatih.
Kondisi tersebut mendorong tim dari Fakultas Psikologi dan Fakultas Keolahragaan UNS untuk hadir memberikan penguatan kapasitas coaching yang berbasis keilmuan psikologi dan keolahragaan melalui kegiatan psikoedukasi. Kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan proses pembinaan yang lebih adaptif, suportif, dan berorientasi pada kesejahteraan psikologis atlet remaja disabilitas. Kegiatan dilakukan terbagi dalam dua sesi dan diawali dengan pretest untuk mengetahui pemahaman awal peserta.
Sesi pertama disampaikan oleh Ibu Dewi Intan Puspitadesi, M.Psi., Psikolog, psikolog dari UPTD PLDPI (Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi) Surakarta. Pada sesi ini, peserta diajak untuk memahami karakteristik perkembangan remaja disabilitas beserta dinamika psikososial yang menyertainya. Tidak hanya membahas cara berkomunikasi dengan atlet, Ibu Intan juga membekali peserta dengan berbagai pendekatan psikologis dalam mendampingi atlet remaja disabilitas, termasuk penerapan konsekuensi logis serta pentingnya membangun hubungan yang baik dan dilandasi kepercayaan. Pada akhir sesi pertama, peserta diminta mengisi lembar posttest untuk mengetahui perubahan pemahaman setelah memperoleh materi yang disampaikan.

Sesi kedua disampaikan oleh dosen dari Fakultas Keolahragaan UNS yaitu Muhamad Bram Riyadi, M.Or. dan juga Muhammad Endra Sukmana, M.Or. Keduanya berbagi pengalaman dan wawasan mengenai pembinaan atlet paralimpik. Materi yang disampaikan yakni mengenai strategi pelatihan yang adaptif serta berbagai pendekatan untuk menjaga motivasi atlet remaja disabilitas agar tetap bersemangat dalam berlatih dan terus berkembang meraih prestasi.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mereka saling berbagi pengalaman dan bertukar strategi dalam menangani berbagai perilaku atlet remaja. Para peserta tampak aktif berdiskusi dan bertanya mengenai berbagai permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari, baik di lingkungan asrama maupun saat sedang latihan. Beberapa peserta menyampaikan kesan dan pesan mereka, antara lain:

“Kesannya, saya lebih mengerti tentang psikologi, terutama tentang psikologi olahraga, untuk nantinya saya terapkan pada atlet saya.”
— Peserta 1
“Mungkin untuk kedepannya, ada edukasi lagi lanjutan dari edukasi yang saat ini.”
— Peserta 2
Atas terselenggaranya kegiatan psikoedukasi ini, pihak PJPAP NPCI Jawa Tengah memberikan apresiasi positif atas kepedulian UNS terhadap para atlet remaja disabilitas. Mereka berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal bagi peningkatan kapasitas pelatih dan pendamping asrama dalam memberikan pendampingan yang lebih adaptif dan inklusif serta berorientasi pada kesejahteraan psikologis atlet remaja disabilitas. Program serupa juga diharapkan dapat dilakukan secara berkesinambungan di masa yang akan datang.


