Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS), melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR-UNS), menyelenggarakan Program Klik Tanpa Luka pada Senin, 4 Agustus 2026, di SMK Negeri 8 Surakarta.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Aditya Nanda Priyatama, S.Psi., M.Si., bersama delapan anggota tim dosen dan sepuluh mahasiswa Fakultas Psikologi UNS. Program diikuti oleh 43 peserta didik sebagai upaya pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) di tengah tingginya intensitas penggunaan media digital oleh remaja.
Urgensi program ini tercermin dalam data terbaru SAFEnet. Sepanjang April–Juni 2026, tercatat 821 kasus KBGO yang diterima dan dipantau di Indonesia; 204 korban di antaranya berusia di bawah 18 tahun. Perempuan merupakan kelompok yang paling banyak terdampak, dengan 559 korban; sementara ancaman penyebaran konten intim menjadi bentuk kasus yang paling banyak dilaporkan, yakni 318 kasus.

Melalui pendekatan Recognize–Resist–Report (3R), peserta diajak mengenali bentuk-bentuk KBGO, melatih respons asertif saat menghadapi tekanan di ruang digital, serta membangun keberanian untuk mencari bantuan kepada orang dewasa tepercaya. Metode interaktif, seperti bermain peran dan diskusi kelompok, digunakan agar materi lebih mudah dipahami dan relevan dengan pengalaman peserta didik.

Pihak sekolah mengapresiasi pelaksanaan Program Klik Tanpa Luka karena dinilai sangat relevan dengan kehidupan anak muda saat ini. Berliana Widi Scarvanovi, M.Psi., Psikolog, salah satu pemateri sekaligus Kepala Layanan Konseling Mahasiswa UNS (Sasmitajiwa UNS), berharap kegiatan ini dapat dikembangkan menjadi program rutin untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG) ke-5 tentang kesetaraan gender.
“KBGO dapat dialami siapa saja tanpa memandang identitas gender maupun jenis kelamin. Oleh karena itu, literasi digital yang berpihak pada keselamatan, keberanian mencari pertolongan, dan dukungan dari lingkungan sekolah menjadi sangat penting,” ujar Berliana.



