Dukung Java Wellness RG Indigenous Psychology Lakukan Pengabdian Masyarakat Bertema Budaya Bersama Paguyuban Macapat Pangemong Budaya Astana Oetara

Mengusung tema “Merajut Rantai Pewarisan Ajaran Hidup Luhur Macapat”, Tim Pengabdi Masyarakat dari Grup Riset Indigenous Psychology Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Psikologi Budaya Jawa di Car Free Day (CFD) Surakarta pada Minggu (26/7/2026) lalu. Acara yang dibuka dengan sajian Tembang Macapat persembahan dari Paguyuban Macapat & Laras Madya Pangemong Budaya Astana Oetara yang bernaung di Soejono Soewasti Perkumpulan Badan Hukum Trah Mangkunegaran VI dengan Ketua KRMH Suryo Danisworo.

Paguyuban yang dipimpin oleh Bapak Is Sumardi dirintis pada Tahun 2011, dan berhasil menghimpun ratusan anggota, pernah meraih Rekor MURI Tahun 2012 dengan menggelar tembang Macapat selama 60 jam nonstop. Namun, jumlah anggota paguyuban lambat laun menyusut seiring dengan bertambahnya usia para anggotanya. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk mendukung pewarisan budaya lintas generasi, khususnya Tembang Macapat yang sarat nilai-nilai kehidupan. Upaya ini mendapat dukungan penuh dari Lurah Nusukan, Rina Andriani, S.Sos., M.M. “Keberadaan Paguyuban Macapat di Astana Oetara perlu kita dukung eksistensinya, dan menjadi bagian penting dari perwujudan Nusukan Berbudaya”, tegas Bu Rina dalam sambutannya di Sarasehan Budaya.

Rangkaian kegiatan pengabdian diawali dengan Sarasehan Budaya pada Kamis (16/7/2026), bertempat di Pendopo Handayaningrat, Astana Oetara. Pendopo tersebut merupakan tempat latihan rutin di setiap Hari Kamis, khususnya malam Jumat Kliwon. Latihan yang diselenggarakan sebulan sekali tersebut terbuka bagi siapa saja yang berminat mempelajari tembang macapat. Sarasehan tidak hanya dihadiri anggota paguyuban dan tim dari UNS, namun mengundang perwakilan dari Soejono Soewasti (RA Jeni Suryanti), Kepala Kelurahan Nusukan (Rina Andriani, S.Sos. M.M.), Perwakilan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (Asep Heru Atmaja), Dalang dan Seniman Wayang Keong (Drs. YB. Rus Hardjanto atau lebih kerap disapa Mbah Jantit), Penggiat Budaya, juga menjabat Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Pusat dari NTT (Gregorius Re Gesi Raja atau Gress Raja), dan perwakilan Yayasan Anand Krisna yang membedah Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV.

Gelar Budaya di CFD mendapat sambutan hangat dari para guru, mahasiswa, orang tua, pasangan suami istri, dan para pejalan kaki lainnya. Bahkan ada yang berkenan turut menembang bersama, dan menyampaikan nilai hidup yang terkandung dalam tembang tersebut. Sebagian pengunjung juga menyimak poster ilustrasi Mekanisme Buddhi Pekerti. Pengunjung merasa senang dapat merasakan langsung dan menemukan kembali budaya macapatan, sekaligus belajar mengimplementasikan nilai-nilai ajaran luhur dalam keseharian. Pada umumnya masyarakat berharap gelar budaya semacam ini dapat disajikan secara rutin.

“Tembang Macapat tidak hanya mengandung pembelajaran nilai-nilai hidup, namun juga berdampak pada penurunan stres dan peningkatan resilensi jika penembangnya memahami maknanya”, ungkap Ketua RG Indigenous Psychology, Dr. Farida Hidayati, S.Psi., M.Si. Kegiatan dengan sumber dana Non APBN UNS Tahun Anggaran 2026 ini, tidak hanya selaras dengan tujuan ke-3 (Good Health and Well-being) dari SDGs 2030, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Namun juga ke-17 (Partnerships for the Goals), yaitu penguatan dan revitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan dengan kolaborasi semua pihak.

Kegiatan ini melibatkan dosen dari RG Indigenous Psychology, yaitu: Rin Widya Agustin, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Ketua Pengabdian), Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si., Pratista Arya Satwika, S.Psi., M.Psi. Psikolog., dan Selly Astriana, S.Psi., M.A. Serta mahasiswa yang terdiri dari Adib Hibatullah, Aldila Zahra, Adinia Putri, dan Naila Nugrhanurainisa Mumtaz. Keterlibatan mahasiswa tidak hanya berdampak pada rekognisi KKN, namun juga menjadikan mahasiswa berperan aktif sebagai agen pelestari dan pewaris kebudayaan. “Macapat memuat Panduan Ajaran Hidup Luhur dari Mangkunegara IV, Ranggawarsita, Sri Susuhunan Pakubuwana IV. Tembang ini sebagai warisan lintas generasi dalam mencapai Kesadaran Murni Kedamaian Diri melalui Hening Cipta -Eling lan Waspada (Meditasi – Sadar Nafas) yang mengarahkan Pola Perilaku Memayu Hayuning Bawana – menjaga keselarasan manusia dengan alam, sehingga jauh dari berbagai gangguan atau persoalan mental”, kata Rin Widya menutup pagelaran budaya.

Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait